Hay kamu! Bagaimana hari yang telah lalu? Mungkin saja kamu telah melalui banyak sekali rintangan. sebelum memulai untuk membaca, mari apresiasi dirimu dengan setidaknya mengucapkan terimakasih. 

Hidup pada era yang sangat cepat ini memang membawa cukup banyak tekanan pada diri. mulai dari lingkungan terdekat keluarga sudah banyak sekali pikiran kacau yang terbentuk. Tuntutan dari orang tua untuk menyanggupi ekspektasi mereka bahkan tekanan untuk menjadi contoh bagi adik kecil yang selalu kagum. selain itu, tuntutan dari masyarakat jga semakin memperparah keadaan. Tidak hanya tekanan eksteral bukan? bahkan tekanan bisa muncul dari diri sendiri untuk mencapai tujuan akademik dan karier masa depan,

baiklah, sebelum melanjutkan membaca, tarik nafas yang dalam dan tenangkan dirimu. Semua beban dan tekanan yang kamu rasakan itu sejatinya hal yang sangat wajar. Sadarilah bahwa itu memang menjadi bagian dari dirimu sendiri. Tidak perlu menghindarinya, kamu hanya perlu mengatasi semuanya.

Lalu, bagaimana caranya?

1. Manajemen Beban dan Tekanan

Terkadang kita memiliki kesusahan membedakan antara beban dari tanggungjawab dan keperluan dengan tekanan yang kita ciptakan sendiri. Untuk itu coba menganalisa tingkat kepentingan suatu hal untuk dipikirkan. Apakah beban tersebut memberi dampak pada hidup anda? Atau beban tersebut hanya memberi kebingungan bagi anda.

Apabila analisa ini berhasil dilakukan, maka akan terlihat mana beban tanggung jawab yang perlu anda selesaikan. Buatlah pemetaan sekiranya anda akan memberi prioritas pada yang mana. Prioritas ini dapat merujuk kepada urgensi dan desakan waktu yang ada. Skala prioritas mungkin perlu juga anda pahami lebih dalam.

2. Cintai Apa yang Kau Lakukan atau Lakukan Apa yang Kau Cintai

Tekanan dalam bentuk stress biasa biasa muncul karena kebosanan ataupun ketidak tertarikan dalam mengerjakannya. Sejatinya, dalam hidup ini anda memiliki kendali penuh dalam setiap keputusannya. Jika tidak menyukai suatu hal tinggalkan saja demi kebahagiaan anda.

Kendati demikian, terkadang anda akan terjebak dalam kondisi untuk harus melakukan   sesuatu yang jenuh dan menekan. Untuk itu, coba lakukan penyesuaian tekanan dengan cara anda. Sebagai contoh kondisi yang mengharuskan belajar materi hitungan dan anda memiliki kewajiban melakukannya. Disisi lain anda membenci kegiatan tersebut karena lebih menyenangkan untuk melakukan kegiatan dkiskusi atau mungkin membuat karya seni. Nah, cobalah melakukan hal awal dengan cara yang anda sukai itu! Diskusi dengan orang lain terkait materi ataupun membuat karya visualisasi dari materi tersebut. 

Klausa kerjakan yang kamu cintai dan cintai yang kamu kerjakan sejatinya bisa menguntungkan bagi dirimu. Dengan jalan ini anda akan lebih menentukan tingkat beban yang anda sanggupi.

3. Buanglah Sampah Pikiran!

Sebelumnya kita perlu menyepakati hal terkait tekanan seringkali berasal dari pikiran. Atau mungkin anda lebih sering untuk mengalami overthinking. Sadarilah bahwa berfikir berlebihan bukan menjadi sebuah solusi dari permasalahan. Pikiran yang muncul biasanya suatu hal yang tidak terjadi ataupun yang belum terjadi.

Pola pikir overthinking akan membawa anda memikirkan skenario probabilitas yang tidak jelas. Padahal pikiran tersebut tidak mengubah apapun. Hal ini memiliki sedikit perbedaan dengan proses berfikir antisipasi. Karena proses antisipasi akan fokus pada solusi bukan skenario probabilitas.

Jadi apabila suatu pikiran telah disadari sebagai overthinking, maka berhentilah memikirkannya dan jalani apa yang ada di depan mata.

4. Ambil Rehat Sejenak.

Waw! Mungkin ini akan menjadi step terakhir yang ada. Seluruh langkah sebelumnya hanya akan meminimalisir beban anda dan tidak sama sekali menghilangkannya. Sehingga beban tekanan tersebut akan tetap terus bersama anda.

Menyadari kondisi ini, anda hanya perlu tenang dan mengambil sedikit jeda. Dalam tekanan yang tinggi cobalah menjarakkan dengan waktu beberapa saat. Anda bisa melakukan rehat dengan menarik nafas atau melakukan metode penenang diri seperti pelukan kupu-kupu. Terkadang juga, anda perlu membagi beban tersebut dengan orang lain. Ceritakan apa yang menjadi tekanan mu pada orang terdekat yang dipercayai. Atau mungkin dapat mengunjungi konselor sebaya dan profesional. Salah satunya di GenRe Indonesia yang menyediakan layanan Konselor Sebaya.