Oleh: Danny Putra Febriansyah

Pernahkah Anda mendengar atau berdiskusi tentang Toxic Relationship? Ya, istilah yang sering digunakan untuk mengartikan suatu hubungan atau relasi yang buruk dan beracun. Menurut Dr. Lillian Glass oleh Bagus Wismanto, mendefinisikan, bahwa toxic relationship adalah hubungan yang tidak saling mendukung satu sama lain. Dimana salah satu pihak berusaha memiliki kontrol yang lebih besar terhadap pihak lain. Toxic relationship terdiri dari dua kata, yaitu toxic yang artinya racun, dan kata relationship yang artinya keterhubungan. Maka toxic relationship merupakan hubungan antara dua individu atau kelompok yang beracun yang bersifat merusak bahkan membunuh satu sama lain secara mental dan relasi. Sehingga, toxic relationship dapat diartikan suatu hubungan yang tidak baik yang tidak hanya merusak individu sendiri melainkan juga dapat merusak antar individu yang lain.

Dewasa ini, tak jarang para remaja sering terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, bermasalah, dramatis, memberikan dampak negatif yang lebih banyak, atau biasa disebut dengan istilah toxic relationship ini; baik dengan teman, sahabat, pacar, saudara, keluarga, maupun orang tua dan lingkungan sekitarnya. Hubungan yang bermasalah ini bisa menguras waktu, tenaga, bahkan pikiran, dan akan berpengaruh buruk bagi kesehatan, baik fisik atau mental, serta memengaruhi kemampuan belajar dan interaksi sosial remaja.

Mengapa toxic relationship bisa terjadi? Toxic relationship bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk ketidakseimbangan kekuasaan, kurangnya komunikasi yang sehat, ketidakcocokan pemikiran atau pendapat, dan kurangnya apresiasi terhadap antar individu. Beberapa faktor lain termasuk kecemburuan yang berlebihan, kontrol yang tidak stabil, ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik dengan baik juga menjadi alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Pada dasarnya, faktor-faktor tersebut bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat dan merugikan bagi salah satu atau bahkan kedua dan semua belah pihak yang terlibat.

Ciri-ciri pelaku toxic relationship biasanya individu yang suka terus mengkritik, terlalu sibuk dengan dunia maya, mengekspresikan ketidaksukaan secara tak langsung, cenderung berperilaku posesif, menyembunyikan dan menghindari masalah bukan justru menyelesaikannya, terlalu sarkastik dalam berkomentar, dan tidak ingin memiliki hubungan emosional yang baik dengan orang lain. Apabila Anda merasakan orang-orang dengan ciri tersebut ada di sekitarmu, segera cut-off, ya!

Fase remaja adalah fase di mana seseorang mencari jati diri, masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, dan era di mana seorang individu mengalami banyak kejolak kehidupan. Di usia remaja ini, membangun hubungan yang sehat antar sesama sangatlah diperlukan. Karena, dengan lingkungan yang positif dan saling mendukung, dapat membantu satu sama lain untuk menjalani kehidupan dengan prinsip hidup yang lebih kuat dan positif.

Membangun hubungan yang sehat selama masa remaja sangat penting karena masa ini adalah proses dimana individu sedang mengembangkan keterampilan hidup, meningkatkan skills berinteraksi sosial, emosional, dan interpersonalnya. Hubungan yang sehat membantu remaja belajar tentang komunikasi yang baik, penghargaan diri, empati, dan batasan-batasan pribadi. Selain itu, hubungan yang sehat juga memberikan dukungan emosional dan sosial yang penting selama masa perkembangan remaja yang sering kali penuh dengan perubahan dan tantangan.

Remaja dapat membangun hubungan yang sehat dengan berfokus pada komunikasi yang jujur dan terbuka, saling menghormati, menghargai, dan memahami pentingnya batasan individu. Komunikasi yang efektif memungkinkan remaja untuk menyampaikan perasaan, kebutuhan, tujuan dan harapan dengan jelas kepada teman, sahabat, saudara, keluarga, pasangan ataupun rekan dalam berelasi. Saling menghormati artinya menghargai pendapat, memahami ruang pribadi, dan kebutuhan satu sama lain. Penting juga untuk mengerti bahwa setiap orang memiliki batasan yang perlu dihormati dan dijaga; atau yang biasa disebut dengan menjaga privasi. Selain itu, membangun kepercayaan satu sama lain merupakan pondasi yang penting bagi remaja untuk menciptakan hubungan yang sehat dan suportif, serta bermakna prinsip yang unggul.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat di masa remaja dapat membentuk dasar yang kuat untuk hubungan interpersonal yang bermakna dan memuaskan di masa depan.

Sekian, dari Manusia yang Sedang Belajar Memahami Masa Depan

Referensi: 

1. https://fkkmk.ugm.ac.id/toxic-relationship-hindari-hubungan-bermasalah-di-kalangan-remaja/ 

2. ⁠http://repository.iainkudus.ac.id/8312/5/5.%20BAB%20II.pdf 

Danny Putra Febriansyah
Author: Danny Putra Febriansyah

belajar memahami masa depan