Generasi Z, atau yang dikenal juga sebagai Gen Z, merupakan mereka yang lahir diantara tahun 1996 – 2012, sedangkan remaja menurut definisi BKKBN adalah penduduk yang berusia 10 – 24 tahun dan belum menikah. Jadi dapat kita ketahui bahwa saat ini Gen Z sudah menginjak remaja. Gen Z sendiri berasal dari kata Zoomer karena mereka lahir dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan internet secara dekat.

Sebagai Gen yang tumbuh erat dengan perkembangan teknologi membuat Gen Z terbiasa hidup di lingkungan yang serba cepat, dan dimudahkan dalam berbagai hal karena semua dapat diakses melalui perangkat yang dinamakan smartphone. Di satu sisi Gen Z merupakan generasi yang tumbuh di era yang mana keluarga secara ekonomi rata-rata lebih stabil, sehingga Gen Z juga secara umum tumbuh di lingkungan yang cukup nyaman dan terpenuhi baik secara materi, maupun secara Pendidikan.

Dalam  perkembangannya,  Gen Z  diikuti   juga  dengan kualitas permasalahan remaja yang beragam  seiring  dengan  masa  transisi  yang dialami oleh     remaja. 5 transisi remaja yang  dimaksud  menurut Progress Report World    Bank adalah melanjutkan   sekolah   (continue   learning), mencari pekerjaan (start working), memulai kehidupan berkeluarga (form families),  menjadi    anggota masyarakat (exercise  citizenship),  dan  mempraktikkan hidup sehat (practice healthy life).

Menjalani transisi mencari pekerjaan dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Gen Z. Latar belakang Gen Z yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan teknologi dapat menjadi pisau bermata dua. Kemampuan dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut dapat menjadi peluang bagi Gen Z apabila dalam pemanfaatan teknologi dilaksanakan secara maksimal. Lain halnya dengan remaja yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ini untuk mencari konten-konten terlarang atau menghabiskan waktunya hanya untuk bermain game online.

Tantangan selanjutnya adalah label Generasi Stroberi yang sering melekat pada Gen Z, Istilah Generasi Stroberi pada mulanya muncul dari negara Taiwan, istilah ini ditujukan pada sebagian generasi baru yang dianggap lunak seperti buah strawberry. Pemilihan buah strawberry untuk penyebutan generasi ini juga karena buah strawberry itu tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur. Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, generasi stroberi adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Beberapa memberikan definisi ini karena melihat melalui laman-laman sosial media. Begitu banyak gagasan- gagasan kreatif yang dilahirkan oleh anak-anak muda, sekaligus banyaknya cuitan resah penggambaran suasana hati yang dirasakan oleh mereka.

Salah satu jurnal yang mendeskripsikan tentang buah stroberi, menjelaskan bahwa buah satu ini adalah buah semu yang berarti bukan buah yang sebenarnya. Begitu juga pada generasi stroberi ini, mental stroberi adalah mental semu yang bukan sebenarnya dimiliki oleh Gen Z. Generasi yang tangguh merupakan generasi yang berjalan pada poros optimisme masa depan yang lebih baik. Kita percaya bahwa saat ini prestasi akademik tidak sepenuhnya menjamin masa depan. Disiplin ilmu yang kita pelajari melalui ruang kelas belum tentu dibutuhkan lagi dimasa depan, termasuk apa yang kita pahami hari ini belum tentu dapat bisa relevan dengan permasalahan dimasa depan.

Jadilah remaja yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk melatih diri menjadi inovatif dan kreatif, memanfaatkan keterbatasan menjadi peluang yang menciptakan kebermanfaatan. Yakinkan bahwa remaja tidak perlu diragukan lagi akan hal ini. Kemajuan teknologi dan informasi membuat remaja punya lebih banyak referensi untuk berkarya. Beragam inovasi yang dilahirkan dengan memanfaatkan media sosial sudah lebih awal di banjiri oleh tangan-tangan remaja. Namun memang hal ini perlu di optimalkan kembali dengan kemampuan literasi digital yang baik, agar berbagai informasi yang dibuat dapat lebih bisa menjaring permasalahan dan mampu memberikan kebermanfaatan.

Kita pahami bahwa tantangan kedepan akan semakin kompleks dan juga berat, namun rasa optimis, bekal hardskill, softskill dan etika akan mampu membawa kita untuk terus berjalan kedepan, menjadi generasi tangguh yang mampu menghadapi transisi selanjutnya.

Penulis : Yosevita Ramadhani S

Referensi :

1. https://ejournalwiraraja.com/index.php/FISIP/article/view/425/371

2. BKKBN.    2012. Pedoman Pengelolaan Pusat Informasi    dan Konseling Remaja   dan   Mahasiswa. Jakarta:BKKBN

3. https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Digital/article/download/1325/1065

4. Kasali, Renald. 2018. Strawberry Generation, Mengubah Generasi Rapuh menjadi Generasi Tangguh.