Oleh : Gaharu Intra Bijani

Budaya Patriarki sejatinya tidak hanya merugikan bagi pihak perempuan, tapi juga membuka celah untuk merugikan pihak Laki-Laki. Laki-Laki dalam pandangan masyarakar patriarki selalu dianggap sebagai pihak yang dikaitkan dengan ketahanan, kekuatan, dan tanggung jawab. Pandangan ini bekerja layaknya dua mata pisau yang juga menimbulkan konsekuensi bagi Laki-laki.

survei yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2018, dari seluruh dunia menunjukkan bahwa pria di mana pun merasa sulit untuk terbuka tentang kesehatan mental mereka. Stigma yang melekat pada Laki-Laki terkait dinamika emosi yang mereka alami mengakibatkan banyak remaja laki-laki yang cenderung tertutup akan keadaan mereka yang pernah, sedang, dan membutuhkan perawatan untuk kesehatan mental mereka. sebagian besar remaja laki-laki mengalihkan emosi mereka ke arah perilaku beresiko bagi remaja seperti penyalahgunaan narkotika, alkohol, dan kenakalan remaja lainnya.

“Cowok Kok Nangis?” “Cowok itu harus kuat” adalah ungkapan yang sering terdengar di masyarakat menjadi gambaran bagaimana laki-laki diberikan beban untuk menahan diri dan tidak mengekspresikan emosi yang mereka rasakan. padahal, sudah seharusnya setiap orang berhak untuk merasakan emosi negatif dan mencari bantuan ketika dibutuhkan. Stigma tentang emosi yang dihadapi laki-laki ini tentu saja memiliki dampak yang negatif. ketidakterbukaan seseorang terkait dengan kondisi kesehatan mentalnya dapat berujung kepada keberlanjutan gejala kondisi mental yang sedang dialami.

Ungkapan yang akrab di masyarakat inilah yang dikenal sebagai contoh dari Toxic Masculinity. Toxic Masculinity adalah suatu tekanan budaya bagi laki-laki untuk melakukan perilaku dengan standar secara berlebihan. dan ini adalah langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi stigma kesehatan mental pada laki-laki dan memerangi Toxic Masculinity ;

  1. Edukasi dan Kesadaran

Upaya untuk memerangi toxic masculinity pada masyarakat dapat dilakukan melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang peran gender, toxic masculinity, dan kesetaraan. 

  1. menyediakan ruang aman

menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi setiap orang untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi bisa menjadi langkah awal perubahan untuk bisa memerangi toxic masculinity

  1. mendukung kesetaraan

sudah seharusnya masyarakat mendukung kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan di ruang publik tanpa adanya diskriminasi gender

Ingat, proses mengatasi toxic masculinity adalah suatu hal yang membutuhkan waktu dan upaya dari kita semua.

Jadi, mari bersama-sama menciptakan dunia yang lebih inklusif, di mana setiap orang bisa menjadi diri mereka yang sebenarnya tanpa dibatasi oleh stereotip atau tekanan yang merugikan.

GenRe Indonesia
Author: GenRe Indonesia

SAATNYA YANG MUDA YANG BERENCANA!